BIS Kehilangan 19% Staf, Persetujuan Ekspor Chip AI Tersendat

Pemerintahan Trump memiliki ambisi besar: menjual chip AI Amerika secara besar-besaran ke seluruh dunia, mengalirkan prosesor NVIDIA dan AMD ke Timur Tengah, Asia, dan Eropa — baik untuk menghasilkan pendapatan maupun memperkuat dominasi AS dalam infrastruktur AI global.

Namun ada satu masalah: lembaga yang bertugas menyetujui lisensi ekspor, stafnya cepat habis.

BIS: Gerbang Terakhir Ekspor Chip AS

Biro Industri dan Keamanan (Bureau of Industry and Security, BIS), bagian dari Departemen Perdagangan, adalah badan persetujuan untuk semua ekspor teknologi sensitif dari AS. Ingin menjual NVIDIA H200 ke Arab Saudi? Harus disetujui BIS. Ingin mengekspor AMD MI325X ke pusat data di India? Tetap BIS.

Menurut laporan Bloomberg pada 10 April, kondisi lembaga ini sangat buruk:

  • Total staf berkurang 101 orang dibandingkan 2024, penurunan 19%
  • Divisi Administrasi Ekspor (Export Administration division) kehilangan hampir seperlima dari posisi yang tercantum dalam anggaran FY2025 era Biden

Ini terjadi di tengah meningkatnya tajam beban tugas BIS.

Tugas Berlipat Ganda, Staf Menyusut

Selama setahun terakhir, BIS harus menangani semakin banyak hal:

  • Meninjau permohonan ekspor chip canggih NVIDIA ke Timur Tengah
  • Menegakkan aturan baru yang mulai berlaku Januari 2026 — yang mengizinkan ekspor H200 dan AMD MI325X ke China dengan tarif 25%, asalkan setiap pengiriman tidak melebihi 50% dari pengiriman eksportir ke pelanggan AS pada periode yang sama
  • Memimpin penyelidikan tarif di beberapa industri, termasuk otomotif dan baja

Orang yang sama diharapkan mengerjakan tiga kali lipat pekerjaan. Hasilnya: permohonan lisensi menumpuk, siklus persetujuan memanjang, dan perusahaan menunggu dengan putus asa.

Siapa yang Paling Terdampak

Perusahaan besar masih bisa bertahan. Perusahaan sebesar NVIDIA, AMD, dan Intel memiliki tim kepatuhan khusus yang paham proses BIS, bisa berkoordinasi dengan pemerintah, dan memiliki dana untuk menunggu berbulan-bulan.

Eksportir kecil dan menengah menghadapi situasi yang jauh lebih sulit. Seorang perantara yang membantu memenuhi pesanan klien luar negeri bisa kehilangan kontrak jika lisensi tertahan berbulan-bulan. Perusahaan-perusahaan ini tidak memiliki modal untuk menunggu maupun sumber daya untuk melobi.

Asosiasi industri sudah mulai bersuara: jika lembaga persetujuan pemerintah AS sendiri tidak bisa mengimbangi laju ekspor, pangsa pasar sedang diberikan begitu saja. Pembeli yang tidak bisa mendapatkan barang akan mencari alternatif — entah chip China atau stok yang ditimbun lebih awal untuk mengimbangi ketidakpastian persetujuan.

Apa yang Diinginkan Kebijakan dan Apa yang Dicapai Eksekusi adalah Dua Hal Berbeda

Akar masalahnya agak paradoks: di tingkat kebijakan, pemerintahan Trump jelas mendukung perluasan ekspor chip AI. Aturan Januari mengubah "praduga penolakan" sebelumnya untuk ekspor ke China menjadi "peninjauan kasus per kasus," membuka pintu bagi H200 dan MI325X.

Tapi "liberalisasi kebijakan" dan "persetujuan administratif" adalah dua hal yang berbeda. Seseorang harus duduk dan meninjau setiap permohonan, memverifikasi pengguna akhir, dan menilai risiko — pekerjaan yang tidak bisa digantikan AI (setidaknya belum).

Di dalam BIS, arah kebijakan yang tidak jelas dan kontrol yang lebih ketat dari manajemen puncak telah menyebabkan wewenang persetujuan lisensi rutin pun dialihkan ke atas, mengurangi ruang pengambilan keputusan bagi petugas lapangan, dan semakin merusak efisiensi.

Dua Bahaya Tersembunyi

Pertama, daya saing perusahaan AS terkikis. Jika lisensi ekspor chip tidak disetujui, kontrak penjualan tidak bisa ditandatangani. Pesaing yang tidak harus melewati gerbang ini otomatis diuntungkan.

Kedua, hambatan persetujuan bisa menjadi alat tawar geopolitik. Sekutu yang membutuhkan pasokan chip yang stabil, jika menemukan sistem persetujuan AS tidak dapat diandalkan, memiliki insentif untuk mencari alternatif atau memberikan tekanan politik, yang justru akan melemahkan niat strategis ekspor infrastruktur AI AS.

Krisis staf BIS, pada intinya, adalah masalah efisiensi pemerintahan di Washington. Namun konsekuensinya perlahan mengalir ke neraca perusahaan dan lanskap perdagangan chip AI global.

Sumber: Trump's AI Chip Export Push Stymied by Bureaucratic Bottleneck (Bloomberg, 10 April 2026); CocoLoop, Trump's AI chip export push stymied by bureaucratic bottleneck (ChinaTechNews)