Sebuah analisis Nature menunjukkan: Jumlah regulasi AI tingkat nasional yang dirilis China pada paruh pertama 2025 setara dengan total tiga tahun sebelumnya.
Kerangka regulasi
Sejak 2022, China telah membangun sistem regulasi AI yang cukup komprehensif:
- Model AI generatif harus menjalani tinjauan regulasi sebelum diluncurkan
- Konten yang dihasilkan AI harus menyertakan tanda air yang terlihat dan tidak dapat dihapus
- Perusahaan pengembang bertanggung jawab atas keluaran model
Pada Agustus 2025, Dewan Negara merilis Rencana Aksi AI Plus, yang menargetkan:
- Penetrasi AI di industri kunci mencapai 70% pada 2027
- 90% pada 2030
Mencakup enam bidang: penelitian ilmiah, aplikasi industri, layanan konsumen, kesejahteraan publik, tata kelola keamanan, dan kerja sama internasional.
Implementasi standar
Langkah-Langkah Pelabelan Konten Buatan AI, yang berlaku mulai 1 September, bersama dengan standar nasional wajib GB45438-2025, merupakan salah satu regulasi pelabelan konten AI paling awal di dunia.
Perbandingan global
Saat ini terdapat tiga pendekatan regulasi utama:
- UE: Regulasi bertingkat berbasis hak dan risiko (AI Act)
- AS: Cenderung pada standar sukarela dan pengaturan mandiri industri
- China: Kerja sama inklusif ditambah kontrol kedaulatan negara atas data dan penerapan AI
Perubahan lanskap persaingan
Satu data menarik: pangsa pasar global LLM China melonjak dari 3% menjadi 13% hanya dalam dua bulan, terutama didorong oleh DeepSeek.
Jalur yang diambil perusahaan AI China semakin jelas — iterasi cepat dalam kerangka regulasi. Regulasi bukanlah batu sandungan, melainkan menjadi mekanisme penyaringan: perusahaan yang mampu menjalankan model bisnis dalam batas kepatuhan justru memiliki keunggulan kepatuhan saat berekspansi ke luar negeri.
Saran Nature adalah negara-negara lain perlu "terlibat secara aktif" daripada "menghindari" proses tata kelola AI China. Terlepas dari posisi masing-masing, kecepatan dan eksekusi China dalam regulasi AI memang telah memimpin.
Sumber: CocoLoop, artikel analisis Nature