Bhavin Turakhia kembali membuat taruhan besar di perangkat lunak. Pendiri Directi, Radix, Titan, dan Zeta itu mengumumkan Neo pada 1 Juli, sebuah suite kantor AI-native yang diarahkan ke Microsoft Office dan Google Workspace. Modal awal US$30 juta berasal dari uang pribadinya.
Kepada TechCrunch, Turakhia mengatakan bahwa jika ingin membuat iPhone, orang tidak bisa sekadar mengubah komponen Nokia.
Neo menggabungkan manajemen proyek, dokumen, penyimpanan file, dan lapisan asisten bernama Friday. Produk ini dapat tersambung ke lebih dari 1.000 aplikasi eksternal dan dibuat netral terhadap model, sehingga perusahaan tidak terkunci pada satu penyedia model.
Diuji lebih dulu di pekerjaan nyata
Sejak April, Neo sudah dipakai secara internal di beberapa perusahaan milik Turakhia, termasuk Zeta yang bergerak di perangkat lunak perbankan. Sasaran berikutnya adalah perusahaan menengah di teknologi, konsultasi, dan layanan profesional. Timnya kini 45 orang, termasuk 18 insinyur, dan ditargetkan mendekati 100 orang pada akhir tahun.
Turakhia mengatakan pangsa 2% sampai 5% saja bisa lebih besar dari bisnis apa pun yang pernah ia bangun. Tantangannya berat karena suite kantor sulit diganti, sementara Microsoft, Google, Salesforce, Notion, dan Superhuman juga memasukkan AI ke alur kerja. Neo menargetkan uji coba terbatas di India dan Amerika Serikat pada Agustus, sebelum peluncuran publik Januari 2027.
Sumber: CocoLoop, Laporan TechCrunch tentang Bhavin Turakhia yang memakai dana pribadi US$30 juta untuk membangun Neo sebagai alternatif AI bagi Microsoft Office.