OpenAI Tutup Sora, Rugi Jutaan Dolar per Hari Tak Tertahankan

Pengumuman OpenAI untuk menutup layanan pembuatan video Sora telah mengguncang industri—bagaimanapun juga, ini adalah salah satu produk yang paling sensasional saat diluncurkan.

Mengapa Ditutup

Alasan utamanya sangat realistis: merugi sekitar $1 juta per hari.

Biaya komputasi untuk pembuatan video jauh lebih tinggi daripada pembuatan teks. Setiap pembuatan video membutuhkan daya GPU puluhan hingga ratusan kali lipat dari percakapan teks. Dengan jumlah pengguna yang tidak cukup untuk menekan biaya dan model bisnis yang belum terbukti, terus membakar uang tidak masuk akal.

Kemitraan Disney Gagal

Menurut laporan, OpenAI dan Disney pernah membahas kemitraan mendalam—menggunakan Sora untuk mendukung pembuatan video AI bagi produksi konten Disney. Namun, kesepakatan itu akhirnya gagal, tanpa alasan spesifik yang diungkapkan ke publik. Spekulasi mengarah pada perbedaan pendapat mengenai kontrol hak cipta, standar kualitas, dan persyaratan komersial.

Kehilangan calon klien besar ini merupakan pukulan fatal bagi prospek komersialisasi Sora.

Kesulitan Pembuatan Video

Pengalaman Sora bukanlah kasus yang terisolasi. Seluruh sektor pembuatan video AI menghadapi masalah yang sama:

  1. Biaya terlalu tinggi: Beban komputasi jauh lebih besar daripada pembuatan teks.
  2. Kualitas tidak stabil: Kadang menakjubkan, sering kali gagal.
  3. Skenario komersial tidak jelas: Siapa yang bersedia membayar untuk video buatan AI?
  4. Risiko hak cipta: Masalah hak cipta data pelatihan masih belum terselesaikan.

Sinyal bagi Industri

Penutupan Sora menunjukkan satu hal: mampu secara teknis dan berhasil secara komersial adalah dua hal yang berbeda.

Akumulasi keahlian OpenAI dalam teknologi pembuatan video tidak hilang; kemampuan ini mungkin muncul kembali dalam bentuk lain, seperti fitur multimodal GPT-5.4. Namun, sebagai produk pembuatan video yang berdiri sendiri, Sora telah membuktikan bahwa model bisnisnya tidak berkelanjutan pada tahap ini.

Ini merupakan peringatan bagi pesaing seperti Kuaishou Kling, Runway, dan MiniMax Hailuo AI—membuat demo yang mengesankan saja tidak cukup; menemukan model bisnis yang berkelanjutan adalah kuncinya.

Sumber: CocoLoop, laporan media teknologi